Ditulis oleh: Eki Qushay Akhwan
Pada pelajaran #2, kita sudah mengamati dan mendiskusikan portofolio yang mengilustasikan bagaimana permainan garis, bidang, dan geometri membentuk foto yang menarik. Pada pelajaran ini, kita akan mengamati portofolio yang mengintegrasikan warna dan tekstur ke dalam komposisi. Perhatikan foto berikut ini:
Judul Foto: Fallen
Lokasi pemotretan: Bethlehem, Pennsylvania, Amerika Serikat
Fotografer: © Eki Qushay Akhwan
Foto ini eyecatching (menarik perhatian mata) dan menjadi salah satu foto pilihan editor yang mendapat rating cukup tinggi ketika dimuat di http://www.fotografer.net/. Daya tarik foto ini, menurut saya, pertama terletak pada kombinasi warnanya: hijau (warna daun, titik perhatian utama foto ini) dan merah (warna bata trotoar yang menjadi latar belakang) yang sangat kontras dan komplementer. Unsur lain yang menjadikannya menarik perhatian mata adalah garis-garis yang dibentuk oleh susunan bata. Garis-garis itu silang menyilang membentuk diagonal. Ini menjadikan komposisi menjadi tampak dinamis. (Garis diagonal mempunyai sifat lebih dinamis dibandingkan dengan garis vertikal atau horizontal.). Tekstur bata yang tidak mulus dan arah jatuh cahaya juga menambah nilai hentak visual foto.
Proses Kreatif
Subjek foto ini didapat secara tidak sengaja. Artinya, sebagai fotografer, saya tidak sengaja mencari subjek ini. Siang itu, saya sedang jenuh dan, seperti biasa, saya mencari pelarian dengan berjalan-jalan menenteng kamera. Tujuan saya sebenarnya adalah mencari objek-objek foto arsitektur atau kehidupan di jalanan. Ketika sedang berjalan itulah, saya tidak sengaja melihat ke bawah dan melihat beberapa lembar daun pohon maple yang jatuh di trotoar. Warna daun dan bata serta garis-garis yang dibentuk oleh susunan bata itu langsung menarik perhatian saya. Saya segera mengambil beberapa foto. Saya memutuskan untuk melakukan sudut pengambilan dari atas (top angle) untuk memberi tekanan pada kontras warna dengan memperhitungkan unsur garis, tekstur, dan arah cahaya. Saya juga memainkan posisi kamera agar garis-garis susunan bata tampak silang menyilang secara diagonal untuk memberi kesan dinamis. Inilah hasilnya.
Pelajaran yang dapat dipetik:
Pertama: Selalu amati benda, orang, dan kejadian di sekitar kita. Jangan terpaku dengan tujuan perburuan kita. Pengamatan yang cermat dan jeli akan membuat kita mampu menemukan hal-hal menarik yang biasanya terlewatkan oleh kebanyakan orang.
Kedua: Pusatkan pengamatan itu pada hal-hal kecil yang kadang-kadang tampak tidak signifikan, seperti warna, tekstur, garis, arah dan kualitas cahaya, atau (jika interes kita pada orang) perhatikan penampilan dan perilaku orang. Hal-hal kecil seperti itulah yang seringkali memberikan kepada kita foto yang istimewa.
Ketiga: Karena fokus pelajaran ini adalah warna dan tekstur, perhatikan bahwa paduan warna-warna tertentu (dalam foto di atas merah dan hijau) memiliki nilai hentak visual yang tinggi. Demikian juga dengan tekstur. Tekstur kasar dalam terpaan cahaya samping (directional light) akan semakin kuat memunculkan kesan tekstur yang berdimensi dan menjadikan foto lebih menarik.
Selamat mencoba! Dan nantikan pelajaran berikutnya.
Friday, May 9, 2008
Pelajaran Fotografi #3: Warna dan Tekstur
Friday, May 2, 2008
Pelajaran Fotografi #2: Cahaya, Jangkuan Nada, dan Komposisi Garis dan Bidang
Ditulis oleh: Eki Qushay Akhwan
Pada Pelajaran Fotografi #1, kita sudah belajar bahwa foto bagus selalu memiliki dua elemen dasar yang penting: komposisi dan cahaya. Dari pelajaran itu, kita juga tahu bahwa dalam komposisi kita dapat memainkan keseimbangan dan asimetri (dalam garis, bidang, ruang, dan geometri), wujud dan bentuk, pola dan tekstur, serta cahaya, nada (tone), dan warna untuk mendapatkan gelegar visual (visual impact) yang menghidupkan foto.
Dalam pelajaran ini, kita akan melihat portofolio pertama yang mengilustrasikan penerapan prinsip-prinsip di atas.
Judul foto: Line and CurveLokasi pemotretan: Bethlehem, Pennsylvania
Fotografer: Eki Qushay Akhwan
Dari segi cahaya dan nada, foto ini kurang. Karena diambil ketika langit mendung, cahaya jatuh merata ke semua titik. Situasi pencahayaan seperti ini disebut flat (datar, rata). Pencahayaan yang datar seperti ini bisa jadi menguntungkan atau tidak, tertantung subjek fotonya.
Sebagai akibat dari pencahayaan yang datar itu, tone atau nada foto ini juga kurang menimbulkan gelegar visual (visual impact). Anda lihat bahwa foto ini tidak memiliki true white (putih sejati). Nada abu-abu mendominasi ruang foto, dengan sedikit titik-titik hitam yang diwakili oleh patok-patok lampu di tepian setapak. Karena dominasi nada abu-abu itu, jangkauan nada (tonal range) foto ini dapat dikatakan terlalu banyak terkumpul di tengah. (Gradasi nada dari putih ke hitam melewati beberapa tahapan abu-abu, dan karena foto ini tidak banyak memiliki hitam dan sama sekali tidak memiliki putih sejati, maka foto ini didominasi oleh nada abu-abu yang dalam peta nada berada di tengah.).
Meskipun dari segi cahaya dan nada foto di atas kurang menarik, foto itu memiliki kekuatan dalam hal komposisinya. Perhatikan bagaimana kurva yang dibentuk oleh setapak mulai di kiri bawah bingkai melengkung hingga ke tengah frame untuk kemudian berbalik arah ke kiri atas membentuk diagonal sekaligus perspektif yang menciptakan ilusi kedalamam ruang dan mengarahkan mata masuk ke dalam ruang itu. Permainan kurva itu dibingkai oleh garis-garis vertikal dan horizontal tembok yang mengentikan penelusuran mata dengan manis.
Pelajaran yang dapat dipetik:
Pertama: Ketika memotret di luar ruangan, perhatikan kondisi pencahayaan. Perhatikan arah dan kualitas cahaya. Pencahayaan yang datar akan cenderung menciptakan foto yang datar dan tidak berdimensi.
Kedua: Amati subjek sebelum Anda memotret. Temukan geometri garis, bidang, dan ruang – yang jelas terlihat maupun yang dapat dibayangkan – dan carilah sudut bidik (angle) yang dapat mempertemukan/memadukkan unsur-unsur itu dalam komposisi yang mampu menghadirkan gelegar visual.
Selamat mencoba dan nantikan pelajaran berikutnya!
Saturday, April 26, 2008
Memahami Aspek Non-teknis Komposisi
Ditulis oleh: Eki Qushay Akhwan
Ada dua unsur yang selalu hadir dalam foto yang bagus: komposisi dan cahaya. (Lihat "Pelajaran Fotografi #1: Elemen-elemen Komposisi" di Blog ini.) Oleh karena itu, kemahiran mengomposisi merupakan salah satu hal yang harus dimiliki fotografer handal.
Bagi sebagian orang – orang-orang dengan kecerdasan ruang (spatial intelligence) yang tinggi, kemahiran mengomposisi barangkali merupakan bakat yang sudah dibawa dari lahir. Namun itu tidak berarti bahwa orang-orang dengan kecerdasan ruang yang rendah tidak bisa menguasai kemahiran komposisi.Teknik komposisi bisa dipelajari dan bukan sesuatu yang rumit. Ada rumus-rumus dasar yang bisa diikuti dan jika dipraktekkan dan dilatih secara terus menerus, akan melahirkan kemahiran yang memadai untuk dapat menghasilkan karya fotografi yang bagus.
Kemahiran Komposisi
Menurut Henri Cartier-Bresson (1998: 32), kemahiran komposisi pada dasarnya adalah kemampuan untuk membangun/menciptakan secara cermat hubungan antarunsur. Dalam fotografi (dan seni rupa pada umumnya), kemampuan semacam itu berakar pada kemampuan mengenali ritme di dunia nyata. Dunia nyata tersusun dari sejumlah besar realitas atau fakta. Tugas fotografer dalam hal ini adalah memusatkan perhatian pada subjek yang terselip di antara berjibun fakta itu dan mengenali serta menemukan momen atau ritme yang dapat menyatukan beragam elemen pembentuknya menjadi suatu kesatuan yang utuh. Komposisi, dengan demikian, adalah “koalisi simultan [dan] koordinasi organik dari elemen-elemen yang dilihat oleh mata.” (Cartier-Bresson, Op cit.). Komposisi tidak berada di luar subjek. Dalam subjek terkandung bentuk dan isi yang secara “simultan” dan “organik” menjadi nyawa komposisi fotografi.
Gerak dan Momen Komposisi
Pada subjek yang bergerak, gerakan-gerakkannya menghasilkan garis-garis instan yang bersifat plastis. Menghadapi subjek yang demikian, fotografer harus mampu bergerak seirama dengan gerak yang diciptakan oleh irama kehidupan subjek, dan menemukan suatu momen di mana gerakkan subjek mencapai titik ekuilibrium yang harmonis. Di saat seperti itulah, fotografer menekan tombol rana dan membekukan momen itu dalam foto. Momen yang menentukan itulah yang kemudian melahirkan apa yang disebut Cartier-Bresson sebagai “decisive moment” (momen yang menentukan). Inilah momen yang menentukan ada tidaknya pola geometris yang memberi nyawa pada suatu foto.
Untuk mendapatkan komposisi yang terbaik, mata dan mata batin sang fotografer harus terus-menerus mengamati dan mengevaluasi subjek dan irama kehidupannya. Fotografer dapat menemukan titik harmoni komposisi dengan beberapa cara yang kelihatannya sepele, namun memiliki akibat besar dalam komposisi. Gerakan kepala sepersekian milimeter, misalnya, mampu mempertemukan garis-garis yang menciptakan harmoni komposisi. Gerakan menekuk lutut beberapa senti dapat mengubah perspektif komposisi. Demikian juga gerakan mendekatkan atau menjauhkan kamera dari subjek dapat memunculkan atau meniadakan detil yang berarti dalam merepresentasikan si subjek. Yang perlu diingat adalah, bagi fotografer handal paling tidak, semua proses itu berlangsung secara intuitif dan dalam waktu yang nyaris reflek, sesingkat waktu yang dibutuhkan untuk menekan tombol rana.
Unless otherwise stated, the articles and photos in this blog are the copyright property of Eki Qushay Akhwan. All rights reserved. You may NOT republish any of them in any forms without prior permission in writing from Eki Qushay Akhwan.
Kecuali disebutkan secara khusus, hak cipta atas tulisan dan karya foto di dalam blog ini ada pada Eki Qushay Akhwan. Dilarang mempublikasi ulang artikel dan/atau karya foto di dalam blog ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Eki Qushay Akhwan.
