Monday, May 5, 2008

Berburu Bunga Sakura di Washington, D.C.

Ditulis oleh: Eki Qushay Akhwan

Kolam Pantul (Reflective Pool) yang membentang dari depan Lincoln Memorial (dimana foto ini diambil) hingga ke Washington Monument di latar belakang.

Mendengar kata Washington, D.C., orang barangkali akan segera teringat dengan Gedung Putih dan Capitol Hill, dua simbol kekuasaan adidaya Amerika Serikat yang paling dikenal di dunia. Tidak salah memang, karena kedua tempat itu memiliki pengaruh yang besar terhadap kejadian-kejadian di belahan dunia lain. Hampir semua keputusan yang diambil di kedua tempat itu dapat dirasakan akibatnya di seluruh penjuru dunia.

Yang jarang diketahui orang barangkali adalah, bahwa Washington D.C. juga salah satu tujuan wisata yang menarik di negeri Paman Sam. Beragam atraksi wisata ditawarkan oleh kota ini. Di antara objek yang paling banyak dikunjungi adalah monumen-monumen yang banyak bertebaran di seantero kota: Washington Memorial, Jafferson Memorial, Lincoln Memorial, World War II Memorial, Korean War Memorial, Vietnam War Memorial dan dan seabreg memorial lainnya, yang letaknya cukup berdekatan satu sama lain di sekitar Tidal Basin dan kolam pantul yang membentang dari Lincoln Memorial hingga ke Connecticut Avenue di mana Washington Memorial berada.


Menara obelisk Monumen Washington dengan latar depan bunga Sakura yang sedang mekar. Foto diambil dengan kamera saku Canon Powershot A400. Fotografer: Eki Qushay Akhwan.


Peziarah di Vietnam War Memorial. Tembok yang terbuat dari marmer hitam itu berisi ukiran nama-nama korban prajurit Amerika yang tewas dalam perang Vietnam. Foto diambil dengan kamera saku Canon Powershot A400. Fotografer: Eki Qushay Akhwan



Monumen Perang Dunia Kedua. Monumen ini berbentuk lingkaran mengelilingi kolam air mancur. Bagian utara lingkaran itu yang disebut Teater Utara mewakili kancah perang di Atlantik, sedangkan bagian selatan yang disebut Teater Selatan mewakili kancah perang yang terjadi di Pasifik. Foto diambil dengan kamera saku Canon Powershot A400. Fotografer: Eki Qushay Akhwan.

Washington, D.C. juga dikenal karena museum-museumnya yang, terus terang, membuat saya ketagihan: ragam jenisnya, kekayaan koleksinya, dan banyak di antaranya yang gratis, alias tidak perlu bayar untuk mengunjungi dan menikmati koleksinya. Di antara museum-museum itu, favorit saya adalah Smithsonian Air and Space Museum yang sudah dua kali saya kunjungi. Museum ini mengoleksi artefak dan catatan sejarah penerbangan dan antariksa dari sejak ditemukannya persawat terbang oleh Wright bersaudara hingga ke pesawat-pesawat antariksa tak berawak yang menjelajah ruang antarplanet dan antargalaksi. Selain itu, museum ini juga memiliki teater IMAX yang memutar film-film tentang sejarah penerbangan dan penjelajahan antariksa yang menurut saya sayang untuk dilewatkan.

Menjelajah museum yang sangat luas ini membuat kita merasa berada di ruang dan waktu yang berbeda. Setengah hari yang saya habiskan di sini terasa tak cukup menikmati semua koleksi dan atraksi yang dipamerkannya. Tak heran jika museum ini menjadi salah satu museum yang paling banyak dikunjungi di dunia.


Pesawat Boeing DC-3 koleksi Smithsonian Air and Space Museum, Washington, D.C. Foto diambil dengan kamera saku Canon Powershot A400.


Mesin roket peluncur Apollo 13 koleksi Smithsonian Air and Space Museum, Washington, D.C. Foto diambil dengan kamera saku Canon Poweshot A400.

Festival Bunga Sakura
Saat terbaik untuk mengunjungi Washington, D.C. adalah di musim semi (antara Maret dan pertengahan Mei). Di musim ini tingkat kelembaban dan suhu udara sangat nyaman. Langit yang cerah, udara yang cukup kering, dan temperatur yang seperti di ruang ber-AC sepanjang hari (sekitar 20 derajat Celcius), membuat kita nyaman berjalan seharian tanpa harus berkeringat dan mengalami kelelahan yang berarti. Untuk orang yang memiliki hobi fotografi, langit yang biru dan bunga-bunga yang bermekaran juga menjadi daya tarik sendiri.


Wisatawan menikmati keindahan bunga Sakura di tepian Tidal Basin. Foto diambil dengan kamera saku Canon Powershot A400. Fotografer: Eki Qushay Akhwan.

Musim semi juga menjadi saat yang paling istimewa bagi Ibu Kota Negara Paman Sam ini, karena di musim inilah setiap tahun digelar Festival Sakura (National Cherry Blossom Festival). Sebagaimana namanya, festival ini memang diadakan untuk menyambut mekarnya bunga-bunga Sakura. Karena yang menjadi patokan adalah saat mekarnya bunga cantik yang berasal dari Jepang itu, maka tanggal pelaksanaanya juga agak berbeda setiap tahun. Tahun 2005, misalnya, festival diadakan dari tanggal 26 Maret hingga 10 April. Tahun 2008 ini, festival berlangsung dari tanggal 29 Maret hingga tanggal 13 April.

Pohon Cherry Blossom (Sakura) yang sekarang menjadi ciri khas dan kebanggaan kota Washington, D.C. ini menurut sejarah berasal dari Jepang. Pohon-pohon itu dihadiahkan sebagai tanda persahabatan oleh rakyat Jepang kepada rakyat Amerika pada tahun 1912. Festival Sakura sendiri pertama kali diadakan pada tahun 1935 untuk memperingati penanaman pohon Sakura pertama yang dilakukan oleh Ibu Negara Helen Heron Taft dan Putri Chinda, istri duta besar Jepang, pada tanggal 27 Maret dua puluh tiga tahun sebelumnya.

Tradisi Festival Sakura sempat terhenti pada Perang Dunia II karena kedua negara berada pada sisi yang bermusuhan. Akibat perang ini, beberapa pohon Sakura di Washington, D.C. bahkan sempat ditebang dan dirusak oleh orang-orang tak dikenal pada bulan Desember 1941, ketika Jepang membom Pearl Harbor. Festival dihidupkan kembali tiga tahun setelah PD II berakhir dan menjadi tradisi hingga sekarang.

Meskipun pohon Sakura bisa dijumpai di banyak sudut kota Washington, D.C., konsentrasi terbesar pohon ini berada di sekitar Tidal Basin, East Potomac Park (yang berada di tepian timur sungai Potomac), Kanal Washington, dan di sekitar Washington Monument. Jenis Sakura yang ditanam di sini banyak ragamnya. Yang paling banyak menurut catatan adalah jenis Yoshino dan Kwanzan Cherry (prunus x yodoensis dan prunus serrulata Kwanzan) yang berbunga putih cemerlang. Sementara jenis Akebono (prunus x yodoensis Akebono) yang berbunga merah jambu bisa dijumpai di sela-sela jenis yang pertama disebut tadi. Konon semua pohon ini adalah keturunan langsung dari pohon-pohon yang sama yang tumbuh di tepian sungai Arakawa di pinggiran kota Tokyo.

Trik Memotret Bunga Sakura
Memotret bung Sakura mempunyai tantangan tersendiri. Cuaca musim semi yang cenderung cerah serta warna Sakura yang putih atau merah jambu cemerlang sering menipu alat pengukur cahaya di kamera (light meter). Light meter kamera yang didesain untuk mendapatkan eksposure yang tepat (nada tengah atau abu-abu 18%) bisa membuat foto-foto Sakura menjadi kekurangan cahaya (underexposed) atau kelebihan cahaya (overexposed) dan tidak kelihatan seindah warna aslinya.

Untuk mengatasi hal di atas, ada beberapa trik yang bisa digunakan. Untuk pengambilan jarak dekat (close-up) atau situasi di mana warna putih mendominasi bingkai (warna putih mengisi sekurang-kurangnya dua pertiga bingkai), kita perlu menyesuaikan eksposure antara +1 hingga +2 EV (plus satu hingga dua stop). Penyesuaian ini perlu dilakukan agar warna putih bunga tidak menjadi abu-abu. Sebaliknya, jika warna putih mengisi kurang dari seperempat bingkai, kita perlu menyesuaikan eksposure kira-kira -0,5 EV (minus setengah stop) supaya warna putih bunga tidak menjadi kelebihan cahaya (overexposed). Saya menganggap cara ini paling sederhana dan mudah dilakukan ketimbang cara-cara lain seperti melakukan pengukuran cahaya dengan menggunakan kartu abu-abu 18% atau spot meter.


Bunga Sakura jenis Akebono. Foto diambil dengan kamera saku Canon Powershot A400. Fotografer: Eki Qushay Akhwan

2 comments:

Dindin MK said...

wah..
web Pak Eky nih.. tadi googling ttg fotographi muncul liNk bapak.


keren2 fotonya..!


jalan2 mulu...

sTaR's ZoNe said...

photonya keren banget pak!

kapan ya saya bisa kesana?

© Copyrights
Unless otherwise stated, the articles and photos in this blog are the copyright property of Eki Qushay Akhwan. All rights reserved. You may NOT republish any of them in any forms without prior permission in writing from Eki Qushay Akhwan.

Kecuali disebutkan secara khusus, hak cipta atas tulisan dan karya foto di dalam blog ini ada pada Eki Qushay Akhwan. Dilarang mempublikasi ulang artikel dan/atau karya foto di dalam blog ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Eki Qushay Akhwan.