Wednesday, April 9, 2008

Pelajaran Fotografi #1: Elemen-Elemen Komposisi

Ditulis oleh: Eki Qushay Akhwan

Tanggapan kita terhadap suatu foto pada dasarnya dipengaruhi oleh dua hal: isi (subject matter) foto dan selera pribadi kita. Bagi orang yang menyukai lanskap, foto pemandangan tentu lebih menarik dibandingkan dengan foto still life (benda mati/tak bergerak), dan sebaliknya. Namun terlepas dari selera pribadi, ada dua unsur penting yang selalu hadir dalam foto yang bagus: komposisi dan cahaya.

Komposisi dapat diibaratkan sebagai sebuah ramuan atau resep. Untuk menghasilkan masakan yang lezat, koki memilih berbagai macam bahan dan mengombinasikannya sedemikian rupa menjadi hidangan yang menggugah selera. Dalam komposisi fotografi hal yang sama juga berlaku: fotografer memilih dan mengombinasikan beragam elemen sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak visual yang menghentak rasa dan memikat mata. Keseimbangan dan asimetri (dalam garis, ruang, dan geometri), wujud dan bentuk, pola dan tekstur, serta warna dan cahaya adalah “bahan mentah” yang penting diperhatikan dalam komposisi fotografi.

Di antara bahan-bahan mentah itu, cahaya memiliki tempat tersendiri dalam fotografi. (Ingat, fotografi secara harfiah berarti melukis dengan cahaya!) Kuantitas, kualitas, dan arah cahaya – jika “dibaca” dan dikelola dengan cermat – mampu memberi dampak yang dahsyat dalam foto.

Sekedar catatan: Ada anggapan yang sedikit keliru di antara peminat pemula fotografi bahwa peralatan yang dipakai (baca: kamera dan lensa) sangat menentukan dalam menghasilkan foto yang bagus. Benar, kamera dan lensa yang bagus sangat membantu dalam menghasilkan foto dengan kualitas teknis yang bagus. Namun foto yang bagus tidak dapat dihasilkan hanya dengan peralatan yang bagus. Kamera dan lensa yang bagus tidak berarti apa-apa jika orang yang memakainya tidak memiliki visi dan ketrampilan yang diperlukan. Jika tidak percaya, silakan berikan kamera bagus kepada orang awam dan kamera sekali pakai (disposable) kepada fotografer yang berpengalaman. Minta mereka memotret subjek yang sama di waktu yang sama, lalu bandingkan hasil bidikan keduanya. Anda akan melihat bahwa ternyata orang di belakang sejatalah (the man [and woman] behind the gun) yang lebih menentukan bagus tidaknya sebuah foto. Itu karena sebenarnya untuk menghasilkan foto yang bagus, diperlukan lebih dari sekedar alat. Menekan tombol rana terjadi dalam hitungan detik, namun sebelum itu terjadi seorang fotografer yang berpengalaman telah mengamati dan menganalisa subjeknya dengan seksana, membentuk gagasan dan melakukan pravisualisasi, serta memperhitungkan segala sesuatunya. Inilah yang membedakannya dari orang awam atau snapshooter (pemotret yang yang hanya menjepret/menekan tombol rana).

Dalam posting-posting selanjutnya kita akan melihat contoh-contoh portfolio yang mengilustrasikan bagaimana komposisi yang bagus dihasilkan melalui pengamatan yang seksama terhadap subjek dan pemilihan serta peramuan elemen yang dilakukan dengan cermat.

1 comment:

Dindin MK said...

betul pak..!
it's depend on the man [and woman] behind the gun

baru2 ini saya belajar pake kamera SLR Digital...
hasilnya kurang memuaskan..

perlu bnyak belajar buat megang kamerany dulu..



*artikel2nya bmanfaat skali*



click here for visiting my site

© Copyrights
Unless otherwise stated, the articles and photos in this blog are the copyright property of Eki Qushay Akhwan. All rights reserved. You may NOT republish any of them in any forms without prior permission in writing from Eki Qushay Akhwan.

Kecuali disebutkan secara khusus, hak cipta atas tulisan dan karya foto di dalam blog ini ada pada Eki Qushay Akhwan. Dilarang mempublikasi ulang artikel dan/atau karya foto di dalam blog ini dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari Eki Qushay Akhwan.